Bertemu, Berteman, Berkembang

william-bout-264826

Resmi menjadi lelaki perantau di Jogja sedari 2011 lalu. Kota seluas 3.186 km², begitu kata internet. Wilayah  yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat asal, namun cukup untuk menumpuk rindu dengan keluarga maupun orang-orang terdekat. 4 sampai 5 jam perjalanan darat dengan menggunakan bus. Lebih singkat tatkala kereta menjadi pilihan. Bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai penjuru negeri, beragam latar belakang kita berteman. Ilmu dan inspirasi begitu melimpah. Semoga keputusan untuk menetap di sini bukanlah hal yang salah.

Atmosfer kota pelajar masih harum semerbak, meski lalu-lintas ala kota besar mulai menular. Seorang kawan pernah berujar, di Jogja ini kita mau belajar apa saja bisa. Tempatnya ada, gurunya ada, temannya ada. Mulai dari belajar ilmu duniawi sampai non duniawi. Sebut saja Akademi Berbagi, Jogja Creators Meetup, Kumpul Kreavi, dan lain sebagainya. Atau untuk majelis taklim, hampir setiap Masjid punya agenda rutin masing-masing. Sangat rugi bila terlalu sering duduk terdiam, atau nongkrong guyon nihil manfaat, tambahnya. Tak lupa mengingatkan diri sendiri dan teman pembaca. Sortir kembali sesuai kebutuhan. Teliti kembali setiap kegiatan yang akan kita ikuti. Jangan sampai salah sasaran, salah jalan.

Bertemu, berteman, berkembang. Tiga kata kunci yang sering aku pegang dalam mencari kawan. Tentang bagaimana ketika mendapat kenalan baru, kita dapat banyak ilmu serta manfaat darinya. Bukan, bukan tentang memanfaatkan orang. Tentu beda, tentu kamu paham. Berkolaborasi dan saling mengisi, Saling mengingatkan dan mencerahkan. Mungkin itu lebih tepatnya. Tumpah ruah cerita yang diawali dari perkenalan dan pertemanan. Mulai dari mengisi workshop tentang desain vektor, jadi pembawa acara kuliah pra nikah, sampai diwawancarai asisten dosen kampus sebelah untuk membantu tesisnya tentang industri kreatif. Sebagian perhelatan yang pernah ku ikuti dapat kamu baca di sini.

Banyak bertemu orang baru tentu melahirkan banyak pertanyaan berulang seperti,

“Kuliah jurusan apa?”

“Kerjaannya apa ?

“Sendiri aja mas?

“Kapan gendut ?”

Terakhir, mari manfaatkan media sosial kita untuk benar-benar berbagi hal benar. Ketika manusia penulis post ini ada khilaf, jangan sungkan tuk menegur di belakang. Terima kasih.

Photo by William Bout on Unsplash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s