Perubahan itu Nyata (Kisah Transformasi Seorang Lelaki yang Sebelumnya Biasa Saja)

aman-bhargava-393754Cukup lama sudah blog ini tak terjamah. Sebenarnya bukan alpa. Hanya ada beberapa urusan lain dengan prioritas lebih tinggi. Ah, bisa jadi alasanku saja yang malas menulis lagi. Tulisan baru semoga suka. Semoga penuh guna. Bukan tentang aku. Bukan tentang pekerjaanku juga. Kisah tentang perubahan yang terjadi pada hidup seorang lelaki yang sebelumnya biasa saja.

Cerita seorang kawan yang ku kenal di pertengahan tahun 2014. Usianya selisih beberapa tahun di atasku. Seorang lelaki yang di masa lalunya berlabel playboy, anak band, berbadan tegap, ganteng paras, gede motor, duit enteng kemana-mana. Berasal dari keluarga berada di luar pulau Jawa.

Perubahan itu beragam macam. Pengetahuanku yang terbatas ini membaginya menjadi 4, yaitu.

  1. Baik jadi buruk
  2. Buruk jadi makin buruk
  3. Buruk jadi baik
  4. Baik jadi lebih baik

Dua poin terakhir tentu yang kita inginkan. Kesempatan untuk berubah bisa datang secara tak terduga. Faktor eksternal seperti lingkungan dan teman memang sangat berpengaruh. Namun faktor internal dari diri sendiri lah yang nantinya menentukan proses perubahan itu. Si kawan ini selepas lulus SMA memilih untuk masuk Pondok Pesantren. Sebuah pilihan yang berat kala itu. Kedua orangtua sangat menentang pilihannya. Sang Ayah sudah menyiapkan sebuah rumah gedong dan mobil keren untuknya jika ia mau untuk memilih kuliah daripada masuk Pesantren. Tekadnya bulat, tawaran ayahnya ditolak dengan santun dan berpindahlah ia ke Jawa.

Hidayah itu dicari, lalu dikejar dan diperjuangkan. Kurang lebih begitulah kesimpulan yang ku dapat dari cerita si kawan ini. Sosok yang sekarang sangat jauh berbeda. Menjadi Ustadz yang aktif mengisi berbagai kajian, sibuk melanjutkan kuliah, dan sebagai papa muda satu anak yang lagi gemes-gemesnya.

Aku yakin kisah yang ia ceritakan bukanlah khayalan apalagi bualan. Beberapa fakta yang tak dapat ku tulis sini menjadi cermin bahwa itu nyata.

“Ki, belajar agama itu wajib. Terutama dari hal-hal mendasar.”

Begitu kalimat yang pernah ia ucapkan, dan sering terngiang di telinga ini. Meresap larut ke dalam kalbu. Menjadi pengingat di kala tumpukan malas datang bertamu.

Sebelum ku tulis cerita ini, pernah ku tanyakan pada seorang teman yang lain. Pada teman yang pemahaman ilmunya jauh lebih tinggi. Apakah seperti ini termasuk ghibah (membicarakan keburukan orang lain) atau bukan. Insya Allah jawabannya adalah bukan. Semoga diluruskan niat dalam hati ketika menyusun tulisan ini. Semoga dijauhkan dari berbagai bibit kesombongan.

Ada koreksi dan masukan? Tulis saja.

Terima kasih

Photo by Aman Bhargava on Unsplash

4 thoughts on “Perubahan itu Nyata (Kisah Transformasi Seorang Lelaki yang Sebelumnya Biasa Saja)

  1. Ya ga ghibah kok, me ghibah itu kan membicarakan keburukan orang lain mas (CMIIW)
    Jadi terinspirasi, tapi kadang aku sendiri suka kurang konsisten gitu kang, gimana ya kira-kira? mungkin karena belum ada sosok “sahabat” juga si

    Like

    1. Sempet was-was soalnya mas. Sini juga masih butuh banyak belajar buat konsisten mas. Selain dipaksain buat bikin jadwal harian, bikin reminder tanggal-tanggal tertentu, bikin target, dan ngumpul sama temen-temen yang lebih rajin bisa kasih efek positif juga.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s