Ciye, Alhamdulillah Sah!

diego-ph-207704-unsplashBelasan minggu berlalu. Blog ini terdiam cukup lama tanpa tulisan anyar dariku. Gelar dan jabatan baru menempel di pundakku. Lelaki independen ini berubah menjadi seorang kapten di bahtera keluarga anyar. Bismillah, pada rangkai aksara kali ini semoga ada manfaat yang bisa diambil para pembaca.

Semenjak 2016 lalu sudah ada keinginan yang kuat untuk menikah. Calon belum ada. Tenang. Ikhtiar lewat beberapa teman bisa dilakukan. Pertengahan tahun 2017 berusaha membuka beberapa buku tahunan dan mengingat kembali teman-teman atau orang yang mungkin ku kenal dari lingkar SD, SMP, SMA, dan Kuliah. Bertanya kesana kemari mencari sosok yang dinanti. Ditambah tawaran dari sana-sini. Apakah terkesan kebelet banget? Tunggu dulu, hidup di Kota Pelajar ini begitu banyak tantangan dan godaan. Setelah menimbang kembali mencari jawaban. Insya Allah fix, nikah adalah sebuah kebutuhan.

Aku lupa darimana awalnya. Apakah ketika melihat buku tahunan, atau saat sedang melihat daftar teman di media sosial. Ku temukan satu nama yang sepertinya tidak asing. Ingatanku melesat menuju masa awal SMA. Sepertinya kami pernah saling bertemu di UKS pada Masa Orientasi Siswa baru, 2008 silam. Meski setelah itu belum ada prosesi saling mengenal atau berteman selama 3 tahun di Sekolah.

Membekali ilmu dan uang saku menuju pernikahan itu penting. Rupiah demi rupiah mulai terkumpul sejak 2016 lalu. Beberapa buku tentang serba-serbi pernikahan mulai ku beli dan pelajari dari tahun-tahun sebelumnya. Sekian kajian maupun seminar pra nikah tentu menjadi salah satu jalan untuk memperkuat pondasi itu. Teringat pesan seorang kawan, tentang pentingnya menjaga setiap langkah menuju pernikahan dengan jalan yang benar.

“Ga usah pakai modus-modusan apalagi pacar-pacaran”, ucap seorang kawan dekat

Kembali menggali memori. Ada seorang teman yang pernah ku kenal di zaman SMA, dimana ia adalah teman kelas si gadis calon istriku nanti. Ku dapatkan nomor ponsel si teman ini dari seorang kawan yang lain. Tanpa begitu banyak basa-basi, ku jelaskan niatku untuk meminta bantuannya sebagai perantara. Sedikit informasi, teman yang satu ini sudah menikah. Kini kesibukannya adalah sebagai pendidik di sebuah sekolah islam. Kita sebut saja ia sebagai Mas Perantara. Kembali lagi ke cerita, biodata terkirim ke sana. Menghitung hari, ada balasan dari Mas Perantara. Aku mendapatkan beberapa halaman biodata tentang si gadis itu. Biodata atau curriculum vitae yang saling ditukar dalam proses ini berisi:

  • Data pribadi (Nama, tempat tanggal lahir, suku, agama, penyakit, dll)
  • Kriteria calon pasangan yang diinginkan
  • Pandangan atau cita-cita tentang pernikahan

Ku laporkan hal ini pada kedua orang tua di rumah. Ku ceritakan tentang ikhtiar itu. Alhamdulillah setelah diskusi, Ibu dan Bapak pun setuju. Mereka juga mendoakan agar diberi yang terbaik dalam setiap langkahnya. Bapak mengingatkanku untuk sering-sering istikharah. Manusia hanya bisa memilih, tetap nantinya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan bagaimana jalan cerita berlanjut.

Setelah bolak-balik diskusi dengan orang tua maupun kakak, aku minta tolong kepada Mas Perantara untuk menyampaikan bahwa di tanggal sekian aku akan berkunjung ke sana. Saat ditanya dengan siapa akan berkunjung, jawabannya tentu sendiri saja. Mengapa demikian? Ide kecil terpikir, mungkin bisa jadi nilai plus kalau aku datang ke sana sendiri langsung bertemu orangtuanya dan mengutarakan niat. Menarik garis waktu ke belakang, hampir setiap hari selama dua minggu (mungkin lebih) ku berlatih berbicara. Entah itu sendiri di depan cermin. Atau di depan teman-teman studio. Teman kerja tentu mendukung, meski saat itu mereka mengira latihanku belum tertuju pada siapa orangnya. Bagaimana isi latihan tersebut? kurang lebih seperti ini,

“Assalamualaikum, Pak, Bu, perkenalkan saya Rizki. Asli dari Buntu, sekarang tinggal di Jogja. Dulu waktu SMA satu angkatan sama putri Bapak. Saya ke sini berniat untuk kenalan sama Bapak, Ibu, dan putri Bapak, yang nantinya serius untuk pernikahan. Insya Allah kalau nanti dizinkan.”

Setelah disambut oleh si Bapak dan Ibu. Dipanggillah putrinya dari ruang belakang. Dikenalkan secara langsung oleh orangtuanya. Kemudian kami berkenalan juga. Sependek yang ku ketahui, langkah ini biasa disebut ta’aruf. Sedangkan melihat secara langsung calon pasangan disebut dengan nazhar. Mohon koreksi apabila kurang tepat ya. Obrolan kami sebagian besar adalah untuk mengonfirmasi apa-apa yang tertulis dari biodata yang ditukar sebelumnya. Hal-hal yang dibahas seperti kesibukan sehari-hari, kebiasaan, kesehatan, dan beberapa hal prinsip yang penting untuk saling diketahui.

Aku tidak menyimpan kontak gadis yang ingin kujadikan istri tersebut. Beberapa kali pertanyaan diajukan lewat Mas Perantara. Terlebih tentang hal-hal penting menyangkut kepribadian maupun pandangan tentang pernikahan. Tiada chat harian atau telefon. Berat? Iya, berjuang.

Tidak begitu lama setelah pertemuan pertama. Satu bulan berikutnya aku minta izin untuk bertandang ke sana lagi. Berita ini kusampaikan lewat Mas Perantara. Pada pertemuan kedua aku masih ke sana sendiri. Begitu sampai di ruang tamu bertemu si Ibu langsung ditanya,

“Rizki beneran mau serius? Anak saya banyak kurangnya”.

Jawabanku jujur, serius, maju lurus untuk ke jenjang pernikahan. Aku pun banyak kurangnya, pasti. Pada pertemuan kali ini waktunya berbeda dari yang pertama. Jika yang pertama di Sabtu sore menjelang malam. Kali ini di Minggu pagi menjelang siang. Setelah makan siang bersama keluarganya, aku utarakan kembali niatku untuk melamar gadis itu. Ku tanyakan hal itu pada Ayahnya, namun beliau menyuruhku untuk bertanya langsung pada orang bersangkutan. Jawabannya sederhana, senyum dan tawa berarti iya. Aku minta izin untuk membawa orangtua dan keluarga di pertemuan berikutnya. Lamaran dengan membawa cincin untuk mengikatnya sebelum kalimat akad dikumandangkan.

Proses perkenalan sampai dengan akad berlangsung sekitar 6 bulan. Mulai dari Agustus 2017 awal ku mengirim biodata ke Mas Perantara, dan dipungkasi dengan akad nikah di Januari 2018. Penentuan tanggal, konsep pernikahan, tempat, dan lain-lain dibahas setelah lamaran. Pembelian barang-barang dan keperluan lainnya tidak pernah kami lakukan hanya berdua. Bersama keluarganya atau keluargaku. Tetap berusaha menjaga setiap langkah. Pertanyaan-pertanyaan penting selalu ku ajukan lewat Mas Perantara atau ku kontak Orangtuanya.

Menutup tulisan ini. Kalo sudah siap, jangan ditunda. Kalo belum, banyak berdoa. Jauhi modus, perbaiki diri. Luruskan niat, perbanyak taat. Terima kasih banyak untuk banyak pihak yang tidak bisa kusebut satu per satu. Jazakumullahu Khairan.

Photo by Diego PH on Unsplash 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s