Apa Hobimu Sekarang?

Bercerita tentang hobi. Bisa jadi ada kesamaan di antara kita. Mungkin juga ada perbedaan. Bagaimana kalau kita menikmati pilihan masing-masing?

Bercerita tentang hobi. Teringat zaman duduk di bangku SD. Hobi menggambar. Ibu sering sekali menyiapkan kertas kosong dan spidol. Begitu menyenangkan setiap bertemu pelajaran menggambar di sekolah. Sempat ikut les menggambar di luar sekolah dan mengikuti beberapa lomba. Juara? Lain cerita.

Semakin bertambah usia, hobi menggambar itu naik-turun. Kadang ada waktu luang tapi tak dilakukan. Kadang pas lagi ada kegiatan tapi pengen menggambar. Manusia. Ribet. Kompleks. Kesenangan menggambar benar-benar muncul lagi saat pertengahan semester perkuliahan. Saat itu baru mengenal istilah doodle. Sepertinya cocok.

Apakah yang kemudian dilakukan? Memilih serta membeli sketchbook adalah kesenangan baru. Tentu dengan harga yang bersahabat. Drawing pen, pensil, dan penghapus menjadi peralatan andalan.

Di kampus juga ada mata kuliah menggambar. Tapi kurang bisa menikmatinya. Entah karena aturannya yang sangat banyak. Atau bisa jadi karena faktor lain. Coba kamu cari di google tentang apa itu gambar teknik.

Sampai titik ini alhamdulillah di KTP tertulis pekerjaan sebagai wiraswasta. Mengawali hobi menggambar untuk kemudian dijadikan pekerjaan dan bisa menghasilkan. Atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hobi menggambar dapat menuntunku menjadi desainer grafis. Fokus pada icon design. Doa ibu, bapak, dan banyak orang pasti mengiringi langkah ini.

Selain menggambar, hobi lain yang kumiliki adalah membaca dan menulis. Efek pertemanan yang mendorong untuk hal ini. Efek persaudaraan yang memberi dampak ini. Beberapa teman menunjukkan manfaat membaca buku dengan cara yang asyik. Obrolannya selalu klik dan penjelasannya menarik. Tentang persaudaraan, kakak perempuanku yang biasa dipanggil mba Umi adalah orang yang mendukungku untuk senang dengan buku.

Seiring waktu berjalan, hobi baca dan tulis ini mulai jadi pekerjaan. Lebih tepatnya sebagai pekerjaan pendukung. Aku mulai terbiasa untuk membaca, mencari inspirasi, dan menulis kalimat promosi. Bahasa kerennya adalah copywriting. Terutama menggunakan bahasa Indonesia.

Apakah tulisanku bagus?

Hmm…Entahlah.

Proses editing itu ada berkali-kali. Masih banyak yang perlu diperbaiki. Ingin sekali kalimat yang digunakan bisa luwes, lancar mengalir dan nyaman dinikmati oleh pembaca.

Ketika menyadari beberapa hobi membawaku menuju pekerjaan, aku bingung sebenarnya hobiku apa. Sampai pada sebuah pertemuan. Kulihat kopi menjadi hal yang menarik. Wangi aromanya terasa menenangkan ketika melewati hidung. Beberapa desainer senior punya hobi ngopi. Karya mereka keren. Attitude mereka bagus. Apakah coba ngopi?

Lupa kapan mulainya. Belajar dari minum kopi botolan di Indomaret maupun pesan lewat Go Food. Menggunakan porsi gula yang normal ternyata masih terasa pahit bagiku. Kadang minta ekstra gula. Meski hal ini sebenarnya kurang baik.

Ada cita-cita tak tertulis untuk bisa minum kopi tanpa gula. Entah kenapa, itu terlihat seperti prestasi. Alhamdulillah tercapai di satu tahun terakhir. Menikmati cerita setiap kopi adalah kesenangan baru. Cerita tentang bagaimana proses berkebunnya. Cerita tentang pengolahan dan rasa yang dihasilkan. Cerita tentang beragam peralatan untuk menyeduhnya.

Setelah membaca buku Keep Going karya Austin Kleon, semakin ingin menjadikan kopi ini sebagai hobi. Bukan sampai tahap komersial. Kesenangan itu hadir ketika bisa meracik kopi untuk diri sendiri dan orang lain. Alhamdulillah.

Salah satu halaman di buku Keep Going

Lalu, apa hobimu sekarang?

Photo by La-Rel Easter on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *